3rd Annual Malaria Research in Indonesia: Mengatasi Tantangan Menuju Tujuan Eliminasi 2030

Saat Indonesia semakin dekat dengan tujuan eliminasi malaria, tantangan untuk membina kolaborasi antara pekerja lapangan, pembuat kebijakan, peneliti, dan manajer sistem kesehatan menjadi semakin kritis. Lanskap malaria yang berkembang memberikan banyak peluang untuk penelitian dan pengembangan, mulai dari menciptakan alat baru hingga memodifikasi desain uji klinis. Inovasi seperti ini akan dapat terwujud saat para peneliti dari berbagai latar belakang bekerja sama. Forum Annual Malaria Research in Indonesia (AMRI) Ketiga bertujuan menjembatani kesenjangan tersebut dan mendorong solusi inovatif.

Kemajuan dalam eliminasi malaria dapat dikaitkan dengan berbagai intervensi, termasuk penelitian operasional yang berfokus pada menjangkau populasi terpencil dan mempertahankan daerah bebas malaria. Hasil penelitian ini, didukung oleh rekomendasi dari Tinjauan Program Malaria Bersama (JMPR) 2019 untuk melembagakan forum AMRI, telah menyediakan platform berharga untuk berbagi pengetahuan di antara para peneliti Indonesia maupun manajer Program Pengendalian Malaria Nasional (PPMN) dan Program Pengendalian Vektor Nasional (PPVN). AMRI juga serta menjadi masukan bagi keputusan berbasis bukti untuk Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dan memberikan kesempatan bagi penyebarluasan hasil penelitian.

Bekerja sama dengan WHO Indonesia, Perkumpulan Pemberantasan Penyakit Parasit Indonesia (P4I) dan Perhimpunan Dokter Spesialis Parasitologi Klinik Indonesia (PDS PARKI), PPMN, dan PPVN menyelenggarakan konferensi AMRI ketiga untuk memperingati Hari Malaria Sedunia 2023. Acara yang diselenggarakan daring pada 14-15 Maret 2023 ini menarik hampir 2.000 peserta dari beragam kelompok, seperti universitas, dinas kesehatan, lembaga penelitian, perusahaan swasta, dan organisasi masyarakat sipil, menciptakan platform berbagi pengetahuan yang komprehensif. Konferensi tersebut menampilkan pidato kunci, presentasi penelitian, dan diskusi dengan berbagai tema yang berkaitan dengan epidemiologi malaria, diagnosis, pengobatan, pengendalian vektor, pengawasan penyakit, pencegahan, dan manajemen program.

Dr. Maxi Rein Rondonuwu, Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan RI, dalam sambutannya menyoroti pentingnya kolaborasi antara program dan riset. Kredit: WHO/Herdiana Hasan Basri

Tokoh-tokoh terkemuka menyuarakan wacana tersebut, termasuk Dr. Maxi Rein Rondonuwu, Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes, dan Dr Céline Christiansen-Jucht, Ahli Epidemiologi di program Mekong Malaria Elimination (MME) WHO. Dr. Maxi menggarisbawahi tujuan utama pengendalian malaria: untuk mendorong masyarakat Indonesia yang sehat, bebas malaria, mandiri, produktif, dan kompetitif pada 2030, yang dicapai melalui strategi inovatif untuk pencegahan, eliminasi, dan pemeliharaan penyakit. Sementara itu, Dr. Christiansen-Jucht menyoroti percepatan eliminasi malaria di Kamboja dan subkawasan Mekong Besar melalui inisiatif MME yang melibatkan pemberian obat secara massal atau terarah, terapi pencegahan intermiten untuk pengunjung hutan, pemeriksaan demam aktif, dan distribusi kelambu berinsektisida tahan lama. Inisiatif tersebut telah memainkan peran penting dalam menyempurnakan strategi surveilans malaria negara, upaya pencegahan, kegiatan mitigasi risiko, dan pedoman pengobatan.

“Kegiatan eliminasi malaria membutuhkan sistem dasar malaria yang matang, dan perencanaan yang sangat matang untuk membangun dan membuat kegiatan yang memberikan dampak,” kata Dr. Céline Christiansen-Jucht dalam pidato utamanya.

Konferensi ini juga membahas determinan sosial, strategi komunikasi perubahan perilaku, dan peran masyarakat dalam program malaria. Salah satu yang menarik ialah Pratima Rai dari University of Heidelberg, Jerman, dengan presentasi temuan tentang Kader Malaria Desa, yang menunjukkan dampak positif mereka dalam mendekatkan layanan malaria ke komunitas yang kurang terlayani melalui deteksi, pengobatan, dan pendidikan. Penelitian ini dilakukan di provinsi Nusa Tenggara Timur, Papua, dan Papua Barat.

Muhammad Rasyid Ridha, peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), menjelaskan tentang riset timnya tentang vektor malaria (Anopheles sp.) di Desa Sotek, Kabupaten Penajam Paser Utara. Kredit: WHO/Herdiana Hasan Basri

AMRI ke-3 telah dengan tegas meletakkan dasar bagi intervensi berbasis bukti pada jalan Indonesia untuk mencapai eliminasi malaria pada 2030. Kekayaan pengetahuan dan pengalaman yang dibagikan selama konferensi akan menginspirasi solusi dan strategi inovatif untuk memerangi tantangan kesehatan ini. Poin aksi utama menekankan perlunya kebijakan dan strategi inovatif untuk pencegahan, eliminasi, dan pemeliharaan malaria yang kuat. Secara keseluruhan, AMRI menyoroti perlunya sistem malaria yang komprehensif dan efektif untuk mendorong intervensi lebih baik di masa depan dalam memerangi malaria.

Di masa mendatang, forum AMRI perlu dilakukan secara rutin agar pemangku kepentingan dapat terus berbagi wawasan dan rekomendasi untuk eliminasi malaria di Indonesia. Forum tersebut dapat berfokus pada pengembangan kebijakan inovatif, penguatan upaya pencegahan malaria, penyempurnaan strategi surveilans, dan penyempurnaan pedoman pengobatan. Dengan memanfaatkan pengetahuan dan pengalaman kolektif dari para pemangku kepentingan, Indonesia bertekad mempercepat kemajuan menuju eliminasi malaria, memastikan masa depan yang lebih sehat dan bebas malaria bagi masyarakatnya.

Program malaria WHO Indonesia didukung oleh Global Fund to Fight AIDS, Tuberculosis and Malaria.

Ditulis oleh dr. Ajib Diptyanusa, National Consultant for Malaria; dan dr. Herdiana Hasan Basri, National Professional Officer for Malaria; WHO Indonesia.

Sumber: https://www.who.int/

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *