Menyiapkan Sistem Surveilans Nasional untuk Konsumsi Antimikroba di Indonesia: Sebuah Tantangan Kritis

Untuk memerangi resistensi antimikroba (AMR), yang mempersulit pengobatan infeksi secara efektif, data andal tentang konsumsi antimikroba (AMC) sangat penting. Tetapi memperoleh data AMC yang akurat dapat menjadi tantangan karena sumber data seringkali hanya memberikan perkiraan agregat, tanpa informasi spesifik pasien atau alasan penggunaan antimikroba. Meskipun data pengeluaran obat dari fasilitas kesehatan dapat menawarkan wawasan berharga ke dalam penggunaan pasien yang sebenarnya, pengumpulan data dari fasilitas ini seringkali rumit dan memerlukan banyak sumber daya.

Di Indonesia telah dilakukan upaya untuk mempelajari konsumsi antimikroba menggunakan sistem klasifikasi Anatomical Therapeutic Chemical (ATC) dan metode Defined Daily Dose (DDD). Bagaimanapun, konsolidasi data AMC di Indonesia merupakan tantangan karena sifatnya yang tersebar di berbagai sistem dan platform. Kurangnya pemetaan yang jelas semakin memperumit kombinasi manual data dari sumber seperti monitoring dan evaluasi elektronik (e-monev) dan unit farmasi di fasilitas kesehatan. Maka, sangat penting bagi Indonesia untuk mengkaji dan memetakan potensi sumber daya data untuk membangun sistem surveilans AMC yang kuat di negara ini.

Sebagai bagian dari kolaborasi untuk membangun sistem tersebut, WHO membantu Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dalam menilai potensi sumber daya data untuk surveilans AMC dan meningkatkan kapasitas pemangku kepentingan. Penilaian dan pelatihan data AMC dilakukan pada 22-26 Mei 2023.

Penilaian data AMC melibatkan pemangku kepentingan utama dari Kemenkes, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan, dan sektor swasta untuk mengidentifikasi semua data distribusi, manufaktur, dan impor. Selama penilaian, WHO membantu Kemenkes memilih data yang akan digunakan dalam surveilans AMC nasional dan diserahkan ke GLASS AMC.

Kegiatan dilanjutkan dengan pelatihan AMC. WHO melatih 62 staf teknis dari para pemangku kepentingan dalam pelatihan hibrida ini, yang menghasilkan pemahaman lebih baik tentang data yang tersedia untuk AMC dan langkah-langkah untuk membangun sistem pemantauan AMC nasional.

“Penilaian dan pelatihan data AMC sangat penting untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas konsumsi antimikroba di Indonesia. Hal ini sejalan dengan rencana aksi nasional AMR Indonesia 2021-2024 dan transformasi enam pilar kesehatan Kemenkes,” kata Dr Agusdini Banun S, Direktur Pelayanan dan Pengelolaan Kefarmasian Kemenkes, dalam sambutannya.

Pelatihan konsumsi antimikroba untuk pemangku kepentingan di Bogor, 24-26 Mei 2023. Kredit: WHO/Mikyal Faralina

Pemantauan AMC berperan penting dalam memberikan wawasan berharga untuk mengembangkan strategi untuk memanfaatkan antimikroba secara optimal. Dengan menilai data AMC, kami dapat mengumpulkan informasi tentang aksesibilitas dan keterjangkauan agen antimikroba. Ketika digabungkan dengan data relevan lainnya, seperti data AMR, data AMC dapat menginformasikan pengembangan pedoman klinis, protokol, dan pembatasan penggunaan agen spesifik untuk kondisi klinis tertentu atau resep yang ditunjuk. Langkah-langkah ini sangat penting untuk memastikan penggunaan antimikroba yang tepat dan optimal. Membangun kapasitas penyedia data untuk mengumpulkan dan melaporkan data konsumsi sangatlah penting untuk membangun proses pengumpulan data yang andal.

Sebagai tindak lanjut, Indonesia menargetkan membangun surveilans AMC nasional tahun ini dan menyerahkan laporan AMC pertamanya ke GLASS pada panggilan data 2023. Sementara itu, AMC akan dipantau melalui data rutin dari BPOM. Upaya bersama dalam mengekang resistensi antimikroba ini akan membantu menyelamatkan jutaan nyawa di masa depan.

Kerajaan Arab Saudi dengan baik mendukung kegiatan AMR yang dilakukan WHO Indonesia.

Ditulis oleh Nora Arista, National Professional Officer for Antimicrobial Resistance, WHO Indonesia.

Sumber: https://www.who.int/

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *