Menduga Rasa, Menaruh Nilai Pada yang Samar

Wei De Dong Tian, Xian You Yi De, Shanzai! Pernahkah kita menduga-duga perilaku manusia lain yang belum benar-benar mengenalinya dengan baik? Manusia senang menduga-duga, menilai seseorang hanya dari satu sisi yang terlihat samar. Gemar membicarakan hal-hal yang tak benar-benar diketahuinya dengan baik. Lalu disebarkan bagai menaruh api pada kertas dan hangus dilalap kata-kata yang belum tentu kebenarannya. Pada akhirnya, hanya menduga rasa dan menaruh nilai pada sesuatu yang samar. Hati dicabik rasa benci pada hal yang tidak benar-benar ada. Perasaan dirundung rasa tidak nyaman pada hal yang tidak tentu nyata.

Seperti halnya yin dan yang, tiada yang akan pernah sama, tiada hal yang akan selalu rata, tiada hal yang akan selalu baik pun sebaliknya. Sebaik-baiknya manusia di bumi ini, pasti ada sisi buruknya. Seburuk-buruknya manusia pasti ada sisi baiknya, dan begitu seterusnya. Jika di bumi ini hanya ada api, maka hanguslah bumi ini. Jika di bumi ini hanya ada air, maka akan tenggelamlah segalanya.

Dq. Dewi Laras Bumi, (Mahasiswi STIKIN, Purwokerto)

Nabi bersabda, “Seorang Junzi tidak salah langkah di hadapan orang, tidak salah wajah terhadap orang lain, tidak salah mulut dalam bicara dengan orang lain. Maka, perilakunya cukup menjadikan orang merasa takut/hormat, sikap wajahnya cukup menjadikan orang merasa segan dan kata-katanya cukup menjadikan orang percaya. Di dalam Fu (Lu) Xing (Pangeran Lu/Fu tentang hukuman), tersurat, ’Lakukanlah dengan sungguh-sungguh dan hati-hati, jangan hanya pandai memlilih kata-kata. (Shu Jing V.xxvii.11)”’

Melihat sisi baik dan buruk dengan mata telanjang tentu saja mudah, namun terkadang kita lupa berkaca pada diri sendiri. Sesekali, gunakanlah hati sebagai penimbangnya atau luaskanlah pikiran yang penuh sesak itu. Pola pikir yang sempit tidak akan membuka jalan yang luas, tetapi pikiran yang luas membuka jalan sekecil apapun untuk kehidupan yang lebih baik di masa yang akan datang.

Sebagai manusia tentunya kita banyak sekali jatuh pada kesalahan. Segala kesalahan hendaknya membuat kita terus belajar, itu adalah proses pengembangan diri.

Hanya perlu satu hal dalam memperlakukan dan mengahargai manusia lain dengan baik, yaitu dengan membuka hati seluas-luasnya pandangan kita tentang manusia lain sebagaimana kita ingin diperlakukan dengan baik juga oleh manusia lainnya.

Lalu, masihkah kita akan menilai seseorang dengan cara seperti itu ? Bahkan sebenar-benarnya kita sebagai manusia tidak berhak menilai manusia lainnya, terlebih lagi menilai dengan cara yang samar nyatanya. Sebagai manusia yang mempunyai kelebihan dengan makhluk lainnya, tentunya nalar dan perasaan sangat dibutuhkan saat berhubungan sosial dengan manusia lain di kehidupan ini.Melihat, memperhatikan dan mengartikannya secara utuh dan menyeluruh. Jika tidak juga bisa artikan secara utuh dan menyeluruh, maka sudahilah penghakiman itu.

Cu Kong bertanya, “Adakah yang dibenci oleh seorang Junzi?” Nabi bersabda, “Ada, Ia benci akan perbuatan menunjuk-nunjukkan keburukan orang lain; benci akan perbuatan seperti orang bawahan memfitnah atasannya; benci akan perbuatan berani tanpa Kesusilaan; dan benci akan perbuatan gegabah tanpa memikirkan akibatnya. Adakah yang kau benci, Ci-Su?”

“Murid benci akan perbuatan meremehkan hasil yang dicapai orang lain dan menganggap diri sendiri pandai; benci akan perbuatan tidak senonoh dan menganggap diri sendiri berani; dan benci akan perbuatan membuka rahasia orang lain dan menganggap diri sendiri jujur.”

“Dao itu tidak boleh terpisah biar sekejappun.; yang boleh terpisah itu bukan Dao. Maka, seorang zunji berhati-hati dan teliti kepada Dia yang tidak kelihatan, khawatir dan takut kepada Dia yang tidak terdengar. (Tyong Yong Bab Utama: 2)

Demikianlah, apa yang terlihat di luar tidak dapat mengartikan hati manusia di dalamnya. Sama seperti apa yang diketahui samar tidak akan pernah menjelaskan pribadi manusia yang kita temui. Dengan meneliti hakikat tiap perkara, memandang dengan mata hati, dan dengan menyederhanakan yang rumit, maka niscaya kita dapat hidup dengan damai, jika bertemu dengan manusia berbagai karakteristik serta pengalamannya. Hubungan pertemanan yang memperkaya kamus pemikiran kita sebagai manusia yang utuh, karena sejatinya, Tian, Tuhan Yang Maha Besar tidak pernah keliru menempatkankan manusia-manusia untuk berjalan bersama.

“Dengan petimbangan, barulah kita bisa mengetahui berat ringan suatu benda; dengan pengukur, barulah kita dapat mengetahui panjang-pendek suatu benda. Maka, hanya dengan pikiran yang sungguh-sungguh, Baginda dapat mempertimbangkan sesuatu.” (Meng Zi IA, 7.13)

Izinkan saya, menutup dengan perumpamaan Tatar Sunda yang mungkin sudah tidak asing ditelinga namun selalu teringiang dalam ingatan, yaitu, “Silih asah, silih asih, silih asuh.”

Dalam hubungan antar sesama manusia, yang artinya adalah saling mengasihi, saling mengasah/mengajari dan mengasuh/peduli sehingga tercipta suasana kehidupan masyarakat yang diwarnai keakraban, kerukunan, kedamaian, ketentraman dan kekeluargaan. Terima kasih

Dq. Dewi Laras Bumi, (Mahasiswi STIKIN, Purwokerto)

Sumber: https://www.kemenag.go.id/

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *